Home » » Di Prabumulih, Buka Puasa dan Lebaran Tanpa Pempek Rasanya Kurang Afdhal

Di Prabumulih, Buka Puasa dan Lebaran Tanpa Pempek Rasanya Kurang Afdhal

Written By Posmetro Prabu on 08/07/16 | 8.7.16

PRABUMULIH, PP - Siapa yang tak kenal Pempek. Penganan khas Sumatera Selatan yang satu ini bagi warga palembang sekitarnya disetiap hari biasa maupun hari-hari besar keagamaan tidak pernah terlupakan untuk senantiasa disajikan sebagai pelengkap menu makanan. Bahkan pempek kerap menjadi trending topik makanan saat berbuka puasa. Tiap tahun ratingnya selalu meningkat terlebih menjalang dan saat ibadah puasa dilaksanakan.

"Kita tidak pernah melupakan pempek untuk dijual. Seluruh jenis pempek ada disini. Selain banyak peminat, pesanan juga kadang sampai mengantri dari pelanggan" ujar Usman (49) pedagang kuliner musiman di kawasan Padat Karya Gunung Ibul Kota Prabumulih.

Orang Prabumulih atau Palembang pada umumnya jika berbuka puasa tanpa Pempek rasanya kurang afdhal. Penganan yang satu ini sangat dan sangat wajib sepertinya untuk dinikmati saat buka puasa maupun lebaran idul fitri, imbuhnya.

Bahkan salah seorang tokoh masyarakat Kota Prabumulih H Hanan Zulkarnaen mengakui hal tersebut. Baginya yang entah mengapa jika ingin berbuka puasa tanpa Pempek rasanya ada yang kurang. "Kurang pas. Atau jika di ibaratkan dengan bepergian, serasa ada barang bawaan yang tertinggal. Kira-kira seperti itulah berbuka puasa jika tidak makan pempek" ujarnya.

Namun yang terpenting dari semua itu adalah, tahu kah kamu asal usul Pempek Palembang darimana berasal?

Menurut budayawan Sumsel, Yudhy Syarofie, asal mulanya pempek merupakan akulturasi kebudayaan kuliner yang dibawa pedagang China ke Palembang yaitu berupa bakso. Namun, bakso yang dibawa ini berbahan dasar daging yang tidak halal dikonsumsi masyarakat Palembang yang sebagian besar beragama Islam.

Secara geografis, Palembang merupakan penghasil ikan dan tanaman sagu yang cukup besar sehingga untuk mengadopsi kebudayaan bawaan itu, dibuatlah makanan berbahan dasar ikan dan sagu yang awalnya disebut 'kelesan'.

Kelesan ini lanjut Yudhy, ternyata digemari masyarakat Palembang yang mulai banyak dijual pedagang, baik lokal Palembang maupun pedagang China. Maka, sejak tahun 1920an, mulai dikenal istilah pempek di kalangan masyarakat.

"Orang China yang sudah tua kan sering dipanggil 'apek'. Pembeli yang membeli kelesan dari orang China ini terbiasa memanggil pedagangnya dengan sebutan 'pek-pek-pek', yang akhirnya kelesan dikenal dengan nama pempek," jelasnya.

Dikatakan, dengan banyaknya masyarakat Palembang yang merantau ke luar daerah, tentunya secara tidak langsung membawa dan mengenalkan makanan khas ini hingga ke luar Palembang. Sehingga pempek juga bisa dengan sangat mudah ditemukan di luar Palembang, khususnya di Jambi, Bengkulu, serta Lampung. Bahkan tidak hanya di Indonesia, Pempek Palembang kini sudah mendunia, tegasnya.
Share this article :

Posting Komentar

Situs Berita Online POSMETROPRABU.COM. Pertama dan Terbesar di Kota Prabumulih. Terbit sejak Juni 2011

 
Support : Creating Website | Johny Template | Posmetro Cyber Group
Copyright © 2011. Posmetro Prabu - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Jun Manurung
Proudly powered by Posmetro Prabu