HEADLINE NEWS

Puisi-Puisi D.A. Akhyar







Entah

Telah datang di mana usia terpagut lugu
Terpasung oleh waktu, diam dan membisu
Biar kerling sunyi enggan memadu sendu
Oh... Alam... Tak dengarkah engkau?
Rengekan saling topang-menopang
Bahkan aroma amis pun tercium di laci-laci
Oh... Tangis dan amis; tak kah kaudengar
dan kauciumi? Rengek dan tangis menyatu,
lalu bertumpu, memagut harihari memahat sunyi
Kerling mata yang memudar; memaksa,
merampas. Liar memperkosa. Enggan
untuk binasa. Dunia seakan bicara ingin bersajak
sajak tentang memanusiakan manusia
Yang ingin dimanusiakan manusia

Oh... Alam... Entah! Mungkin "harus" seperti ini
Dunia "harus" kejam, bahkan merajam. Alam...
Tak kah ciumi amisamis di laci bahkan di amplop
Licin untuk membius gincugincu yang nyinyir
Sajak seakan luka terlukai manusia
Yang tak memanusiakan manusia
Bahkan sampah terkadang jauh lebih "suci"
Dibanding selip tangan licin dan
Gincugincu beraromakan dusta

Palembang, Juni 2016

Dungu

Dari tepi menuju sepi; hiduplah sunyi
Mungkin kuping sebelah telah mati
Atau? Bahkan, tak lagi dengar bunyi
Ini bukan persoalan miskin atau kaya
Tapi. Tentang harga diri dan nyawa
Jangan gantung sebuah kepercayaan
Karena itu adalah nyawa; jangan...
Jangan kaulukai kepercayaan itu
Sebab, kepercayaan adalah harga diri
Namun;
Di kursikursi kepercayaan seakan
Tiada lagi. Sudah terbeli... Sungguh
Sulit mempercayai elite-elite  kursi
Kepercayaan banyak terkulai, dan
Terlukai. Miris melihat semua ini
Seperti dungu; bisu dan  gagu...

Kamboja, Juni 2016

Remaja Kekinian

suara zaman telah menyeret diriku
pada lembaranlembaran yang hidupkan ratusan robot
bahkan, kenikmatan hidup hampir saja tergadaikan
oleh teknologi: yang serba canggih
ini hidupku, zaman penuh kecanggihan
“remaja kekinian” adalah menghidupkan akal
membudayakan: pikir dan zikir
lalu mikir, bertanya pada langit yang menangis

jangan purbakan akal
karena tak perlu kaulacurkan akal
mikir: dimana akal berguna untuk berpikir
“remaja kekinian” mampu retakkan dinding
dindingdinding takut, terpagut oleh selaput
merobohkan bangunan kokoh yang bernama
“ketakutan.” atau bahkan. “ketidakpercayaan”

Palembang, 2016


Biodata:
Ketua koordinator FAM (Forum Aktif Menulis) Cabang Palembang
Penulis buku puisi berjudul LikaLikuLakiLuka
dan buku terbarunya Sembunyikan Air Matamu, Bersabarlah 

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Situs Berita Online POSMETROPRABU.COM. Pertama dan Terbesar di Kota Prabumulih. Terbit sejak Juni 2011

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *