Home » , » Jalan Lingkar Prabumulih. Nasibmu Kini.

Jalan Lingkar Prabumulih. Nasibmu Kini.

Written By Posmetro Prabu on 28/06/16 | 28.6.16

PRABUMULIH, PP - Seperti tampak pada gambar diatas. Potret tersebut adalah satu dari ratusan titik kerusakan di sepanjang Jalan Lingkar yang dulu sempat menjadi kebanggan Kota Prabumulih. Hasil pantauan posmetroprabu.com dilapangan, Kondisi sepanjang jalan lingkar timur Kota Prabumulih kini tak ubahnya kubangan kerbau menganga yang siap memakan korban.

Bagi pengendara roda empat maupun roda dua butuh perhatian ekstra jika ingin melintasi jalan ini. Jika tidak, alamat akan celaka. pasalnya, selain kondisi jalan yang memperihatinkan, juga banyak jebakan yang bila dari jauh terlihat rata tak tahunya lubang besar yang digenangi air dan lumpur.

Seperti pengakuan Zulkifli (46) yang mengaku harus mendapatkan perawatan intensif lantaran terperosok di kawasan jalan lingkar dekat stadion olahraga Kota Prabumulih. Menurut Zulkifli, sudah tak terhitung berapa pengendara yang celaka saat melintas di jalur itu. "Saya sendiri juga pernah jadi korban. Saya terjatuh karena tidak tahu jika ada lubang. Soalnya kalau hujan lubang disini tertutup air," ujarnya.

Kalau dulu lanjutnya, Jalan Lingkar kerap dimanfaatkan oleh warga untuk refresing sekedar berjalan-jalan bersama keluarga menggunakan kenderaan pribadi menikmati sejuknya udara kawasan perkebunan rakyat. Beberapa diantara mereka kerap ditemukan mandi dan membersihkan kenderaannya di aliran sungai yang ada di jalan lingkar. Air di aliran sungai dulunya masih bening dan bersih bahkan saking beningnya ikan-ikan kelihatan di dalam air. Sekarang tidak ada lagi. Jangankan memanfaatkan kawasan Lingkar untuk refresing, melintasinya saja saat ini rasanya males karna kondisi jalan yang sangat memperihatinkan, terangnya.

Tidak bisa dipungkiri, begitu proses tukar guling jalan lingkar yang berstatus Jalan Kota ke Jalan Sudirman yang notabene Jalan Negara di gelar, Jalan lingkar pun tidak lagi mendapat perhatian. Terlebih dengan adanya peraturan walikota yang melarang angkutan tonase berat melintas dari Jalan Sudirman. Hal ini memaksa Jalan Lingkar yang tipenya dibawah standart menjadi hancur lebur digilas angkutan bermuatan over load.

Pemerintah Kota Pun tidak mau tahu dengan kondisi ini. Pemerintah berdalih Jalan Lingkar kini sudah diserahkan ke Pemerintah Pusat. Padahal, Dinas PU Kota Prabumulih sebelumnya mengungkapkan bahwa perbaikan Jalan Lingkar akan segera digelar Tahun ini. Bahkan Kepala Dinas dengan optimis menegaskan bahwa, rencana perbaikan berikut anggarannya sudah di lelang di Propinsi. Namun nyatanya memasuki bulan Juni tanda-tanda akan adanya perbaikan belum juga terlihat.

Kerusakan parah di jalan lingkar pun ternyata berimbas besar pada warga sekitar yang mayoritas petani karet. Beberapa warga mengaku mengalami kerugian dengan situasi jalan yang rusak parah. Jika biasanya kenderaan pengangkut hasil bumi bisa masuk ke kebun, kini tidak lagi demikian dan para petani terpkasa harus mengeluarkan kos pribadi untuk mengangkut hasil tani ke para tengkulak.

Menanggapi kondisi kerusakan parah di Jalan Lingkar, Walikota Prabumulih Ir Ridho Yahya mengungkapkan bahwa saat ini biaya perbaikan jalan lingkar tidak lagi dibebankan pada APBD Kota Prabumulih melainkan dana APBN melalui balai besar Propinsi sumatera selatan. 

"Kita menyadari penuh masyarakat kerap menyalahkan Pemerintah yang seolah tidak memperhatikan kerusakan jalan lingkar saat ini. Namun demikian perlu diperhatikan bahwa status Jalan Lingkar saat ini sudah menjadi Jalan Negara yang seluruh pembiayaanya ditanggung oleh APBN. Meski begitu, demi peningkatan ekonomi di Kota Prabumulih, Pemerintah Kota juga telah berupaya semaksimal mungkin melakukan audiensi dengan para pemilik transportir untuk saling bahu-membahu memperbaiki beberapa bagian jalan yang rusak sebelum kondisi kerusakan seperti sekarang ini. Karna pada perinsipnya kerusakan jalan disebabkan lalulintas kenderaan perusahaan yang melebihi tonase. Sekarang sudah rusak total iya tentu biayanya juga semakin tinggi" ujarnya.

Dikatakan, dulu sudah ada kesepakatan bahwa para pengusaha sepakat untuk memperbaiki jalan lingkar sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati dalam acara coffee morning yang digelar Polres Prabumulih pada 27 Januari lalu.  Pada pertemuan tersebut para perusahaan bersedia memperbaiki jalan lingkar menggunakan dana mereka sendiri dengan cara patungan. tapi kenyataannya mereka hanya bisa bicara tapi tak bisa membuktikan.

"Nah sekarang, tidak bisa melintas di Jalan Lingkar malah ingin merusak jalan lain dan memaksa masuk melewati jalan protokol dengan cara sembunyi-sembunyi. Mana bisa!! Kalau masih ingin lewat prabumulih, penuhi dulu perjanjian. tegasnya.

Langkah Pemerintah Kota Prabumulih yang menerbitkan Perda larangan angkutan Truk melintas dari kawasan Kota atau Jalan Suriman juga mendapat dukungan dari masyarakat. Kalangan masyarakat mengatakan bahwa Pemerintah Kota telah berbaik hati mengorbankan jalan sudirman untuk dilewati truk angkutan Batubara dan Kayu Log. Sebab lanjut warga, Pemerintah Kota saat ini sangat menolak keras adanya tambang Batubara di Kota Prabumulih. 

"Berterimakasihlah seharusnya para perusahaan tambang dan Transportir Batubara karna Pemerintah masih menyediakan jalan untuk dilintasi truk membawa hasil tambang ke Palembang. Dengan itupula setidaknya para transportir harus tau diri bahwa setiap bangunan yang dilintasi dengan tonase over load biasa rusak kapan saja. Jangan sudah rusak yang ini lantas ditinggalkan, trus mau merusak yang lain pula. Kalau masih ingin melewati Jalan lingkar iya tahu dirilah. Kalau tidak mau memperbaiki, bikin jalan sendiri saja" ujar Hanif (43) salah seorang warga Prabumulih menanggapi ulah pemilik tarnsportir yang mengingkari janji.


Share this article :

+ komentar + 2 komentar

Posting Komentar

Situs Berita Online POSMETROPRABU.COM. Pertama dan Terbesar di Kota Prabumulih. Terbit sejak Juni 2011

 
Support : Creating Website | Johny Template | Posmetro Cyber Group
Copyright © 2011. Posmetro Prabu - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Jun Manurung
Proudly powered by Posmetro Prabu