Home » » Untuk Perempuan Itu

Untuk Perempuan Itu

Written By Posmetro Prabu on 29/01/16 | 29.1.16

Bunga Kopi

Musim ini
Kopi di ladangku
Berbunga lebat sekali
Bergerombol-gerombol
memutih mewangi

Tiga tahun janjiku tergadai
Janji seputih bunga kopi
Berikrar kan sehidup semati
Bersama mendulang mimpi
Menjejak masa depan dalam ikatan suci

Kuperam cintaku
Pada rimbun bunga kopi
Kunanti-nanti
Bunga kopi menjadi biji

Semoga kekasihku sabar menanti

Babat Supat, 2015



Percon

Tadi pagi di pasar pagi
Ibu muda itu membeli sebungkus percon untuk anaknya

Ini pesananmu, Nak.
Anaknya melonjak
Terbahak-bahak

Duaaar...!
Percon meledak
Anaknya berteriak
Ibu, tanganku koyak
Ibu muda itu terisak
Sudah kubilang jangan main percon, Nak.

Babat Supat, 2016


Sembunyi

Kata-kata
Sudah menjelma pistol
Tarik pelatuk
Otak pun jebol

Sebelum kita gila
Dan saling memecahkan kepala
Sebelum kita lupa
Lalu saling menusuk mata
Sebelum khilaf menjajah kita
Sebelum saling memotong lidah

Aku kembali kepada sunyi
Menjerang duri-duri

Lumer dalam damainya sepi.

Babat Supat, 2016



Lupa

Masa efemeral terlena
Mereguk bahagia fana
Amnesia alamat kembali
Rumah kedua menanti
Bilik sempit menghimpit
Perkara kitab, imam, iman
Gugup, kelu, bisu jawaban
Merah saga memecut badan
Ting habis terkikis egois
Melangit ratapan miris
Pembalasan
Sesak sesal terlunta

Babat Supat, Desember '15





Pernikahan Sakit

Engkau lelakiku
Aku perempuanmu
Kita berjodoh.
Tak ada dua orang yang persis sama. Begitu juga kita.
Perbedaan adalah hal biasa
Mengapa kau marah-marah tak terarah?
Engkau adalah raja
Aku bukan ratu, bukan batu.
Aku istrimu, ibu anak-anakmu.
Saat amarah menguasai kepalamu
Jangan kau luahkan pada tanganmu yang berapi. Aku bukan sapi.
Jika kau ingin puas memukul dan memaki,
kawinlah dengan babi.

Babat Supat, 2015



Pulang

Aku pernah menjadi pengembara di lorong-lorong kaku dan beku
Separuh usiaku usai
Terburai di bilik berjeruji
Khilaf kubayar dengan keterasingan panjang

Bau anyir jalan hitam di belakangku
mungkin masih tersisa di mukaku
Orang-orang bergidik
menatapku: jijik
Kehadiranku dihargai dengan semburan ludah
Bedebah...!

Tersungkur ke comberan
Tersingkir dari peradaban
Aku adalah buah penyesalan

Hatiku bertanya pada otakku
Mengapa manusia sulit memaafkan
Sedangkan Tuhan senantiasa membuka tangan

Babat Supat, 16 Januari 16

Untuk Perempuan Itu

Engkau adalah penjaga malamku, aku tak acuh pada malammu
Saat aku tersenyum dibelai mimpi
Engkau sibuk merajut do'a-do'a, agar mimpiku menjadi nyata.
Engkau adalah penghias pagiku,
sedang aku adalah pengganggu pagimu.
Engkau sibuk merapikan tempat tidurku yang kusut,
aku sibuk menata rambut, bercermin dan mematut.
Engkau adalah penunggu senjaku
Aku adalah pengeruh senjamu
Di rumah kau menantiku dengan cemas
Di mall aku enggan pulang bergegas.
Engkau setia merinduku
Aku setia merindukan pacarku
Engkau menasehatiku,
kusebut engkau ''bawel''
Bila kau marah padaku
Aku akan merajuk berhari-hari
Menolak makan, menolak mandi.
Ibu,
Kaulah malaikatku dan aku adalah
perusuhmu.

Babat Supat, Desember 2015



Biodata:

Teratai Senja. Nama pena dari Mayling Oktapia, Hobi membaca, menulis dan berkebun tergabung kontributor di beberapa antologi. Tinggal di Babat Supat. Guru di SDN 6 Babat Banyuasin. Tunak di COMPETER-Palembang Sumatera Selatan.
Share this article :

Posting Komentar

Situs Berita Online POSMETROPRABU.COM. Pertama dan Terbesar di Kota Prabumulih. Terbit sejak Juni 2011

 
Support : Creating Website | Johny Template | Posmetro Cyber Group
Copyright © 2011. Posmetro Prabu - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Jun Manurung
Proudly powered by Posmetro Prabu