Home » » Telah Kukubur, Namun ia Bertandang

Telah Kukubur, Namun ia Bertandang

Written By Posmetro Prabu on 29/01/16 | 29.1.16

Patri Hampa

Melodiku tak lagi kumengerti
Menjuntai beribu tanya
Menusuk kalbu di antara remang kelabu
Takluk akan letih hati
Namun enggan melempar sauh
Menggugurkan ego dalam benak
Namun mengekang tak merajut asa
Sajak-sajak yang mulai memenuhi langit-langit malam
Rembulan gompal seakan tersedu
Menatap sedih kejora seribu
Susah nian kala nanti tak kunjung kembali
Semburat kemilau aku temukan
Apiku membara menyadarinya
Sungguh melodimu membuat keras batu menjadi lapuk
Denting suara kaca memecah
Cerita yang tak pernah ada habisnya
Kisah yang tak akan pernah ada ujungnya
Hingga semua mengalir
Menyisir renung diam
Menelusur kening berlipat
Jua geletar tubuh terbungkus syahdu
Menarikan alam sewindu

Indralaya, 10 Januari 2015 



Meredam Kata

Menggariskan huruf dalam gelap
Kekal lagi malam melingkar
Menjejalkan mentari di kaki langit
            Desau angin bernyanyi sendu
            Menampik risau membungkus aksara
            Kian mengarang menceracau
Api merah meredam dendam
Berkeras tertahan kejam
Ia rangkaikan barisan data kejang
            Sejumput bimbang tengah berkejaran
            Meski ia menolak; menutup
            Ia kerdilkan memori usang
            Kala ditemukan kembali
            Nyata bait itu telah memudar; nyaris tenggelam

Indralaya, 09 Maret 2015 






Telah Kukubur, Namun ia Bertandang

Warta kota menatap cahya
Menghamburkan kata matematika
Menghangatkan jiwa membeku dalam ranah kelana
Menaburkan kenangan yang tak berdusta
            Mimpi jenuh kuresap berdesir lagi paksa
            Kutorehkan kalam legam
            Nan diukir guratan mengekang
            Berharap bulirmu membayang
Duhai, kala aku renungkan garismu
Ketika diri ini jenguk kembali temu itu
Kala itu pula jiwa ini terbang dan tenggelam
Sebongkah kisah kupaksa ‘tuk terkunci
Namun, berakhir dengan untai semu
            Kini kupaksa untuk tahu
            Meski menepis ‘tuk memahami
            Menguburnya justru mengundangnya semakin dekat

Indralaya, 03 Mei 2015 






Memori Luka

Wahai nestapa
Pujangga kini melepas sauh
Panjang perjalanan ia lampaui di terik mentari pun sinar rembulan
            Wahai bola-bola lama
            Berhentilah menyapa
            Liku langkah ini seakan bermuram sepanjang tapak kaki
            Seolah benang pun terlalu tebal melukis pedih di hati
Wahai lembaran kata
Biarkan pulang menjadi jalan terakhir dalam segala kisah
Kembalikan secarik makna yang kau ambil paksa
Jangan tambahkan pikulan tiap dosa
            Wahai guratan indah
            Menarilah meski kaki patah
            Pun dengan sayap tak terbuka
Bawa ia melepas memoar penuh darah
Buang semua jahitan penuh luka
Kubur segala tangis juga nanah
            Biarkan damai merasuki sekujur tubuhnya
            Hingga benar dan salah selalu menyimpan makna
            Menyisip di antara gangguan jiwa
Abaikan semu dalam rona pipinya
Penipu ulung selalu pandai bertingkah
Ia tak mengapa
Walau tiap waktu selalu ada kenapa

Palembang, 04 November 2015






Asing pada Kata

Engkau lirihkan kata yang tak kumengerti
Engkau ucapkan dengan keteguhan nun ketangguhan
Apakah definisi dari kosakata itu?
            Selalu kudengar di tiap tempat persinggahan
            Berjuta kali kuping ini menangkap eja serupa
            Tak terbilang lidah ini menyebut dalam bait tentangnya
Diri ini seakan amat dekat dengannya
Serasa berpeluk dalam detikku
Namun, mengapa amat asing kala kau bisikkan padaku?
Mengapa aku seolah tak mengenal?
Mengapa bibirku bagai mengeja dari dunia yang berbeda?
            Akankah engkau memberi tahu?
            Sediakah dirimu mengenalkan?
            Sudikah engkau mengajarkan?
Wahai, jiwaku mendesah ketika siuran tanyamu kembali membuncah
Menahan resah yang kian merubung kepala
Katamu itu dinamakan cinta

Palembang, 16 November 2015






Tertelan Gagal Dunia

Pada dunia yang temaram
Ada secuil ringkihan yang perlu diselamatkan
Kerap menyusup hingga berdegup
            Hanya ilalang sepi yang tak menepi
            Setia menemani nan menghiasi
            Atau mungkin hanya mengasihani
            Sesuatu bergambar seakan mati namun bersembunyi
Pada dunia yang berayun baka
Ada sejumput letupan menahan dahaga
Ada seikat genggam menyulam harapan
Harus dipertahankan tanpa kefarakan
            Dalam ayu kejora
            Memikat merdu lamunan berintik menderas
            Dari hidup yang ditelan dan ditenggelamkan
            Pada rendah amuk yang diguncangkan
Masih tersisip keluguan
‘tuk berlanjut pada korban kegagalan

Indralaya, 16 Januari 2016 










Profil penulis: Nurlaili Ummusnaini, lahir di Palembang pada 22 Desember. Bungsu dari empat bersaudara yang merupakan mahasiswi tahun pertama di salah satu Universitas Negeri di Sumatera Selatan.
Share this article :

+ komentar + 1 komentar

Posting Komentar

Situs Berita Online POSMETROPRABU.COM. Pertama dan Terbesar di Kota Prabumulih. Terbit sejak Juni 2011

 
Support : Creating Website | Johny Template | Posmetro Cyber Group
Copyright © 2011. Posmetro Prabu - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Jun Manurung
Proudly powered by Posmetro Prabu