Home » » Hanat Futuh Nihayah "Sepiring Kerinduan"

Hanat Futuh Nihayah "Sepiring Kerinduan"

Written By Posmetro Prabu on 26/10/15 | 26.10.15

Bapakku Ingin Jadi Penyair.
Syair-syair sempat lahir dari rahimmu
Sebagian puisi, lainnya tak jadi
Aku belum penyair, dan ingin jadi
Penyair, jelasmu waktu itu

Aku hanya pemancing luka sebab ibumu telah tiada
Mengapa begitu? tanyaku

Karena dari luka-luka yang kukumpulkan, aku
belajar mencipta rasa karsa jadi kata
Hanya tiap purnama mereka jadi puisi
yang sempurna

Bayangkan, Nak! Usiaku telah beranjak tua
Tapi aku masih bukan siapa dan apa
Kecuali jadi bapak untukmu
Sebab itu, aku ingin terus memancing luka
di lautan sana

aku ingin mati meninggalkan karya
seperti Chairil Anwar, yang sajak-sajaknya
terus berdenyut di nadi banyak orang di
sepanjang zaman
Oktober, 2015





Menutup Pintu
Saat di mana kau menutup rapat pintumu tanpa malu
Lalu membidikkan peluru ke arahku dari balik jendela
Aku tak mati, kasih. Hanya
Sisa luka buatanmu itu yang
Terus menerus merajamku
Hingga tak berdaya lalu
Seolah mati
Sia-sia
Oktober, 2015




Sepiring Kerinduan
sepiring kerinduan yang tersaji di atas meja mulai hambar
pemiliknya lagi merana
kebingungan yang panjang
tak menemu jalan

aku mulai tahu, ketika luka yang
tertawar di atas piring kemarin malam
bikin rinduku makin kering kerontang
seperti tanah
tandus

kerinduan? Hambar? Sepertinya
aku kudu usaikan cerita tentang
kerinduan
serta kesetiaan yang
selama ini aku gambarkan
di atas meja makan tiap pagi
hingga malam.

                                                2015
Sebuah Perpisahan di Sabtu Malam

sebuah perpisahan, di sabtu malam
di bawah kerlip lampu kota
mata kita saling memandang
sedang tanganmu, tanganku
menimang bimbang
menimang cemas

tubuhmu, tubuhku tiba-tiba menyatu
dalam satu pelukan utuh
setengah detik, berlalu

lampu-lampu kota dipadamkan
tubuhku-tubuhmu dipisahkan
ada ketakutan yang jadi
hingga pagi
ternyata kau sudah di tengah jembatan masa depan
sedang aku berjalan untuk pulang

                                                2015
Sisa Kerinduan
Sementara sisa kerinduan itu mengampas umpama
Kopi panas yang disruput tiap pagi
Sedang gelasnya adalah
Kesetiaan
Menunggu yang dirindukan lekas
Pulang.
Meski tak tahu kapan.

                                                2015



Sang Jenderal

Jenderal berdiri tenang di dekat Tuhan
Dengan penuh
Senang, kenang
Kami berkunjung di makam
Tepat di museum kesayangan

Jenderal tersenyum, dengan balutan baju khasnya
Kami mengaku
Perjuangan dan semangatnya perlu ditiru
Sebab ujung dari nasib Negara serta bangsa
Adalah tugasku, tugasmu

Jenderal bersabda, jadi pemuda itu harus sadar dan tahu
Sadar kau bernegara, berbangsa
Hidupkan semangatmu
Jangan sampai negaraku, negaramu
Dijajah lagi
Oleh musuh-musuh kaku


                                                            2015
Share this article :

Posting Komentar

Situs Berita Online POSMETROPRABU.COM. Pertama dan Terbesar di Kota Prabumulih. Terbit sejak Juni 2011

 
Support : Creating Website | Johny Template | Posmetro Cyber Group
Copyright © 2011. Posmetro Prabu - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Jun Manurung
Proudly powered by Posmetro Prabu