Home » » Rumput Liar Tetangga "Kasman Gani"

Rumput Liar Tetangga "Kasman Gani"

Written By Posmetro Prabu on 29/09/15 | 29.9.15

Rumput di kebun bunga protes

Akarnya tercabut embun
Beberapa bagian batang disantap kambing
Agar susunya mengalir pagi itu
Anak-anak pada berebut mencicipi
Susu kambing berekstrak rumput
Segar dan murni susu
Bukan boraks dan fermalin
Pembunuh pelan-pelan saraf otak
Terkapar
Bisu
Ganas mematikan

Rumput liar tetangga merasa menang
Tapi sebenarnya kalah telat
Dia tidak pernah berbagi pada bangsanya
Pada negerinya
Pada generasi penerus
Hanya tumbuh liar mengambil sari tanah
Kekar tanpa kerja
Senyum semangat hampa
Membiarkan kambing kelaparan
Dan susunya kering buat esok
Saat anak-anak bangsa minta gizi
Rumput liar tetangga menatap dibalik pagar
Senyum melihat tubuh-tubuh kerdil berjalan
Tulang-tulangnya keropos melangkah
Rumput liar tetangga malah panggil begal
Menadah ekstrak rumput murniku
Buat diri mereka yang tertawa liar

Rumput liar tetangga
Hidupnya nyaman menghirup udara bebas
Dan rumputku lemas berbagi
tinggal ekstraknya abadi
“Dalam darah anak bangsa yang bertahan hidup”

Bulukumba, 2015


JEJAK

Malam kelam
Terlelap

Terdengar suara dari langit jauh
Samar mengisi sunyi

Membangunkan luka seperti dulu
Mengulang kesakitanku

Akan aku berlari
Meninggalkan jejak
Berpaling dari mimpiku

Janji kita hangus sendiri
Kau ingkar lebih dulu

Pelan-pelan aku semakin jauh
Hatimu memang bukan untukku
Bait cintaku kau hapus
Puisiku kau penggal
Lagu rinduku kau matikan
Hingga perapian membara dari egomu
Asapnya kabur duluan
Menjadi arang dan abu berdebu
Biar, biarkan pupus
Biarkan, Biarlah hangus
Kutetap bertahan menanti kasih
“Kau pasti pulang menjemput jejakku”

Bulukumba, 2015


ISTANA KARDUS

Kupungut kusut dari kardus
Berat menempel
Untuk dinding masa depan
Jendela dan pintu
Tembus pandang
Bukan kaca
Hanya hidangan hambar
Di lantai tanah
Basah kecoklatan
Dibasuh kemarau hati

Aku terus di sini
Menghuni alam gersang
Kelahiran kami
Bertahta pada gelisah
Karena aku
“Raja istana Kardus”

Bulukumba, 2015



RAJA DAN RATU
                      
Terkenang
Saat kita bercinta
Di bawah pohon tomat
Menghabiskan tujuh gelas teh pahit
Dan saus cabe

Senyummu
Melebar kepedasan
Sampai lupa
Di balik rumput biru
Ada katak mengintai
Dengan sebilah pedang
Silau ...

Pelan-pelan
Semut yang kita tunggangi melaju
Di atas rel kereta api
Memecah butiran baja
Untuk dijadikan kursi
Pada malam pertama
Buat anak cucu adam
Sebelum kita lahir

Dan cinta kita terus mengalir
Di persandingan baru merasai
“Kita, raja dan ratu”

Bulukumba, 2015



LASKAR SEMUT
       
Laskar semut turun ke ladang
Mengangkat beban di atas kapasitas
Aroma gula bukan ambisi tapi tradisi
Bertahan hidup
Demi bangsanya
Demi generasinya
Tak lelah gotong-royong
Salam-salam pertemuan dijaga
Terlahir dari pribumi ketimuran

Laskar semut berbaris memagari
Benteng-benteng pertahanan
Dengan naluri kesopanan
Budayanya bertahan di kaki rimba
Bertahan di hutan rumput
Sebagai istana terindah

Laskar semut berdendang ria
Bekerja memanggul asa
Tak butuh lencana sang ratu
Tapi tanggung jawab memintanya
Menyelesaikan tugas
Sampai ajal penghabisan
Laskar semut terus beriringan melangkah
Kerukunan bukan perdebatan
“Cintanya menyatu dengan alam”

Bulukumba, 2015



Kasman Gani, lahir di Kajang, 7 Mei 1985. Aktif menulis di grup media sosial Facebook dan merupakan pemilik Grup Sastrawan Angkatan 2015. Beberapa karyanya pernah diterbitkan dalam buku antologi puisi. Penulis saat ini berdomisili di Bulukumba, Sulawesi Selatan.PUISI KASMAN GANI





RUMPUT LIAR TETANGGA

Rumput di kebun bunga protes
Akarnya tercabut embun
Beberapa bagian batang disantap kambing
Agar susunya mengalir pagi itu
Anak-anak pada berebut mencicipi
Susu kambing berekstrak rumput
Segar dan murni susu
Bukan boraks dan fermalin
Pembunuh pelan-pelan saraf otak
Terkapar
Bisu
Ganas mematikan

Rumput liar tetangga merasa menang
Tapi sebenarnya kalah telat
Dia tidak pernah berbagi pada bangsanya
Pada negerinya
Pada generasi penerus
Hanya tumbuh liar mengambil sari tanah
Kekar tanpa kerja
Senyum semangat hampa
Membiarkan kambing kelaparan
Dan susunya kering buat esok
Saat anak-anak bangsa minta gizi
Rumput liar tetangga menatap dibalik pagar
Senyum melihat tubuh-tubuh kerdil berjalan
Tulang-tulangnya keropos melangkah
Rumput liar tetangga malah panggil begal
Menadah ekstrak rumput murniku
Buat diri mereka yang tertawa liar

Rumput liar tetangga
Hidupnya nyaman menghirup udara bebas
Dan rumputku lemas berbagi
tinggal ekstraknya abadi
“Dalam darah anak bangsa yang bertahan hidup”

Bulukumba, 2015



JEJAK

Malam kelam
Terlelap

Terdengar suara dari langit jauh
Samar mengisi sunyi

Membangunkan luka seperti dulu
Mengulang kesakitanku

Akan aku berlari
Meninggalkan jejak
Berpaling dari mimpiku

Janji kita hangus sendiri
Kau ingkar lebih dulu

Pelan-pelan aku semakin jauh
Hatimu memang bukan untukku
Bait cintaku kau hapus
Puisiku kau penggal
Lagu rinduku kau matikan
Hingga perapian membara dari egomu
Asapnya kabur duluan
Menjadi arang dan abu berdebu
Biar, biarkan pupus
Biarkan, Biarlah hangus
Kutetap bertahan menanti kasih
“Kau pasti pulang menjemput jejakku”

Bulukumba, 2015



ISTANA KARDUS

Kupungut kusut dari kardus
Berat menempel
Untuk dinding masa depan
Jendela dan pintu
Tembus pandang
Bukan kaca
Hanya hidangan hambar
Di lantai tanah
Basah kecoklatan
Dibasuh kemarau hati

Aku terus di sini
Menghuni alam gersang
Kelahiran kami
Bertahta pada gelisah
Karena aku
“Raja istana Kardus”

Bulukumba, 2015




RAJA DAN RATU
                      
Terkenang
Saat kita bercinta
Di bawah pohon tomat
Menghabiskan tujuh gelas teh pahit
Dan saus cabe

Senyummu
Melebar kepedasan
Sampai lupa
Di balik rumput biru
Ada katak mengintai
Dengan sebilah pedang
Silau ...

Pelan-pelan
Semut yang kita tunggangi melaju
Di atas rel kereta api
Memecah butiran baja
Untuk dijadikan kursi
Pada malam pertama
Buat anak cucu adam
Sebelum kita lahir

Dan cinta kita terus mengalir
Di persandingan baru merasai
“Kita, raja dan ratu”

Bulukumba, 2015



LASKAR SEMUT
       
Laskar semut turun ke ladang
Mengangkat beban di atas kapasitas
Aroma gula bukan ambisi tapi tradisi
Bertahan hidup
Demi bangsanya
Demi generasinya
Tak lelah gotong-royong
Salam-salam pertemuan dijaga
Terlahir dari pribumi ketimuran

Laskar semut berbaris memagari
Benteng-benteng pertahanan
Dengan naluri kesopanan
Budayanya bertahan di kaki rimba
Bertahan di hutan rumput
Sebagai istana terindah

Laskar semut berdendang ria
Bekerja memanggul asa
Tak butuh lencana sang ratu
Tapi tanggung jawab memintanya
Menyelesaikan tugas
Sampai ajal penghabisan
Laskar semut terus beriringan melangkah
Kerukunan bukan perdebatan
“Cintanya menyatu dengan alam”

Bulukumba, 2015


Kasman Gani, lahir di Kajang, 7 Mei 1985. Aktif menulis di grup media sosial Facebook dan merupakan pemilik Grup Sastrawan Angkatan 2015. Beberapa karyanya pernah diterbitkan dalam buku antologi puisi. Penulis saat ini berdomisili di Bulukumba, Sulawesi Selatan.
Share this article :

+ komentar + 1 komentar

Posting Komentar

Situs Berita Online POSMETROPRABU.COM. Pertama dan Terbesar di Kota Prabumulih. Terbit sejak Juni 2011

 
Support : Creating Website | Johny Template | Posmetro Cyber Group
Copyright © 2011. Posmetro Prabu - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Jun Manurung
Proudly powered by Posmetro Prabu