Home » » Fernanda Rochman Ardhana "Mengiring Waktu"

Fernanda Rochman Ardhana "Mengiring Waktu"

Written By Posmetro Prabu on 22/09/15 | 22.9.15

Rendraisasi
Karya : Fernanda Rochman Ardhana

Kami mengekor akalmu, Rendra
meninggi dogma aksara-aksara bisu
merajai tahta picisan
dengan ayunan lembut
mengukir balada kelabu

Kami mengekor pahammu, Rendra
menapak tilas jejak membumi
yang muram terselubungi badai api
kala berdiri mereka acungkan senapan
mengarak tegap napas borjuis
sementara kau sibuk memilin pena
'tuk menegak lempeng demokrasi

Kami mengekor lakumu, Rendra
mengebiri pasal-pasal tak murni
meski bara menutup nurani
menyiar lepuh sekujur raga
namun jiwa gigih merapal karsa
tak undur membilas jadah

Lantas, pada selingkar tatapmu di nirwana
akankah seulas senyum meraut wajahmu?
Ialah kami penyair-penyair salon
giat mendulang rerumpun noktah
semati repihan ruas bulumu
hingga kembali terkepak sayapmu membentang luas
tiap jengkal kanvas pertiwi
yang kian meretas gejolak
dilumat arus liberalisasi

Cileunyi, 2015

***






Patetis
Karya : Fernanda Rochman Ardhana

perempuanku, ke mana aku harus berteduh
bila hari-harimu tak lagi mengurungku?

terbitlah gamang dalam terik kerinduanku
membaca namamu di pergulatan waktu
akankah terhafal jejakku yang kian menapak semu
ataukah hanya berkesiur di sela-sela angin ribut; olehmu?

tatapku mulai membatu
tiada lekas mereka-reka bebutir kejora
terbendung dalam bilik matamu
sudi mewarnai kepulan kabut malam
yang tiada surut dari tirus parasmu

perempuanku, ke mana aku harus berteduh
bila napas-napasmu tak lagi menghirupku?
aku bertanya-tanya dari balik punggungmu
membawa sepenggal kisah berkarat biru

Cileunyi, 2015

***

Mengiring Waktu
Karya : Fernanda Rochman Ardhana

Nyonya, dirimu kian memutih
di perputaran rona raut cadarmu
bergelung rambutmu mengkias waktu
memecah api cemburu
yang layu singgahi binar netra

Inilah detik ke sekian ribu
mengitari tubuhmu yang kaku
menyerupai arca bisu
terpahat luka dan kenangan
menancap di sesudut rongga

Dan kau mulai jenuh
menatap cermin yang melukiskanmu
kian memantulkan pesona asing
bersarang di lembah pasuryan

Senja memapahmu mengulum usia
meski kokoh lara  menopangmu
memuarai waktu
serta bebayang kisah nan rapuh
namun sebagian organmu
sayup-sayup bersenandung elegi
mengiramai jantung
yang mulai menakar detak

Cileunyi, 2015

***

Kita Mati, Neruda
Karya : Fernanda Rochman Ardhana

Neruda, kita mati
terkuliti otak-otak Samawi
memburai tanpa diksi, tanpa puisi
tertumpah darah tinta-tinta perak
hanya kerna pena kita tersisih
dari bilangan kasih-Nya yang mengunci bait suci

Menggeliat urat nadi mereka
memilah-milah dogma, serasa bajik
menyeret-nyeret pilar doktrin
hingga meluap api sengketa
mengiring lenguh dan binar menyala
mengurai pasal-pasal hikmat
lalu mulai bertanya-tanya
“Mana fasik yang hendak terkebiri?”

Neruda, jiwamu mengisi langit
meratapi hamparan luas abadi
lalu dapatkah berjengkal matamu
singgahi sosok-Nya memuncaki ‘Arsy
ataukah hampa menyelubungimu?

Aku tahu
hanya Matilde di sisimu

Cileunyi, 2015

***

Mengurai Hatimu
Karya : Fernanda Rochman Ardhana

Aku membacanya
pada jejak-jejak membatu
penghias dinding-dinding kalbumu
yang terselubungi tirai-tirai bisu
meski pintu-pintu menutup rapat lebar dadamu
serta derit jendela melamur resahmu

Hatiku tak bergeming
tak turut menjulang istana semu
‘tuk tengadahi lebat hujan
yang menggertak atap-atapnya
hingga sekujur ragaku terlabuhi
tetes demi tetes biru yang menguliti kenang

Pada sebidang kanvas kuulas pesona
sepanjang nuansa senja
yang memayungi kisah kita; dahulu
tanpa harap dirimu membias rayu
atau menggenapinya dengan lumuran rindu
kerna jemarimu selalu menyuap ilusi
menyembunyikan degupan jantung untukku
terlarungi lautan benci, melepas landai

Dan memuisikanku bukanlah pilihan
yang dapat kaubingkai manis di pelataran hati
dingin dan beku

Cileunyi, 2015
***

Sebuah Akhir
Karya : Fernanda Rochman Ardhana
           
Semalam terpandang cinta kita
hening meski dihantam riak pasang
melabuhi tepi geragal

Tak terkuak harmoni berdendang
layaknya kala kita pijak titik alfa
kini meluruh dinaungi tiupan bara
asa membentur tebing curam
kasih tertikam menghimpit gelora di pangkuan
perpaduan mesra mengukir masa moksa

Mimpi bisu tercerca egosentris
terkatup menyekat kata; terbekam
rasa berbinar memudar

Kita sudi pijak titik omega
terputus ikatan pada simpul mati
dan bebas menari

Cileunyi, 2015

***

Berkabut Senja
Karya : Fernanda Rochman Ardhana

Bayang-bayang hitam
merekat di pelupuk mata
menguak gumpalan nista
menyayat vasa-vasa penyelubung angkara
mengurai berjerit-jerit karma

Kau pandang renta guratan kisah
sudikah hempas dusta merajai kalbu
kau gores senja hiasi paras
sudikah heningkan luka iringi jasadku

Apa daya
sesal diambang batas mayapada
gejolak nurani leluasa menutur kata
berhasrat muda
mengutuk raga berkabut senja

Cileunyi, 2015

***

8.Perpisahan : sebuah jalan nyata bagi kita
Karya : Fernanda Rochman Ardhana

Tak dapat kurasa penuh
degup yang melumuri vena
menjalar di tiap-tiap katup menuntut detak berirama
getar tak beresonansi terhantar sayu
hanyut tergenang alur kepastian dan ragu

Ada kepasrahan akan jalinan beku
yang menikam di balik goresan ungu
menjerat dilema terselubungi janji terlantun
hingga terpudar di hari-hari merapuh
menyisa letih di ambang biru
asa tipis menyulam perih bertabur pilu

Bukankah telah tersaji sekeping cinta
namun tak rekah hiasi beribu mimpi tidurmu
terbuang menyinggahi dasar palung kalbu
dan tak dapat kembali teraih ‘tuk beri nikmat baru

Imaji kita terhimpit kala beradu
menyungging senyum pun terlintas semu
tanpa menguak seribu bahasa terpacu
mematung, terpasung bara amarah melebur

Kita bukan diorama
yang sudi hiasi panggung-panggung asmara
‘tuk dipandang rendah akal-akal picisan
menggunjing hingga mereka-reka bahwa kita pendusta
akan kisah yang seakan masih terlukis mesra

Bila terbentang dua jalan bagi kita
maka susurilah yang tak sama rupa
mengekorlah pada jejak nurani ‘tuk buktikan
bahwa cinta nyata meregang nyawa
menanti ajal mengubur jasadnya

Cileunyi, 2015

***

Prahara Sebuah Renungan
Karya : Fernanda Rochman Ardhana

Tertawan aku
mengalasi harmoni yang singgah
memercik aroma, iringi pagi
yang mengatup hening tak bernyawa
bermukim di antara kegelisahan bias temaram
nantikan bangkit cakrawala mengkudeta peran

Bebayang raga terpasung detak-detak berhimpit
jejak riak batin mengikis seruan biduan-biduan bajik
kontemplasi jiwa gertak rongga-rongga sempit
akal diperluas, hati diperlebar
tergerak ritmis
sorot satu fokus akan kuasa tak berbanding

Dan kala embun merembesi pucuk-pucuk kering
gentar aku dalami kerontang jiwa
yang hampa tanpa korelasi bermakna
antara Pencipta dan makhluk-Nya
tak bersanding laku maupun kata

Bukankah semua terlahir selaras
beban terpikul rata
rasa tertanam sama
meniti tangga kekekalan wujud
kelak bermuara pada satu tuju
nikmat mahligai nirwana
yang disuarakan kitab kitab-Nya?

Namun kabut menebal
statis menyelimuti jiwa
belukar tumbuh menumbang prahara
kontemplasi gugur di hampar gersang

Cileunyi, 2015

***

Judul : Bias Noda
Karya : Fernanda Rochman Ardhana

Kita bilas segenap noda
lalu terkapar singgahi persandingan tabu
tak layak semat nama terhantar doa
labuhi beranda tanpa restu

Dan berapa kata hendak terhidang
kala belatung pencerca hinggap menyusuri raga
menggerogoti jiwa yang terpaku resah
akan dusta bertabur dilema

Dapatkah dengar gelegar guntur menghantam awan
menabur rinai bercampur darah hitam
tetes demi tetes memayungi langkah-langkah
yang tiarap menanggung beban dosa

Mungkin tergoreskan nama-nama kita
menghias dinding-dinding ruang jahanam
namun tak selintas terbersit dalam pikir
bermuara pada pusaran nafsu
terjerumus hingga ternoda

Dan sesal bukan penawaran
tak sudi pilih berkawan atau mewujud lawan
dusta kita terbalut kafan
biarkan terkubur jauh dalam pusara kelam

Cileunyi, 2015

***









BIODATA NARASI

Fernanda Rochman Ardhana

Kelahiran Jember, 27 Februari 1991. Seorang Mahasiswa Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJANI). Beberapa karyanya terbit dalam buku antologi bersama puisi dan cerpen, seperti Seremoni Pacar di Pintu Darurat (2015), Mata Matahari (2015), dll. Karyanya juga pernah tercantum di Koran Madura, Riau Pos, Metro Riau, Detak Pekanbaru, Tribun Sumsel, Medan Bisnis, Malang Post dll. Aktif menulis di beberapa grup sastra di media sosial Facebook.



Alamat : Komp. Bina Karya II Blok D2 No. 56 RT 05 RW 18. Desa Cimekar, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Share this article :

+ komentar + 2 komentar

Posting Komentar

Situs Berita Online POSMETROPRABU.COM. Pertama dan Terbesar di Kota Prabumulih. Terbit sejak Juni 2011

 
Support : Creating Website | Johny Template | Posmetro Cyber Group
Copyright © 2011. Posmetro Prabu - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Jun Manurung
Proudly powered by Posmetro Prabu