Home » » Lewat Jalur Mana Saja Asal Bayarannya Akor, Laju

Lewat Jalur Mana Saja Asal Bayarannya Akor, Laju

Written By Posmetro Prabu on 22/06/15 | 22.6.15


Embel-embel punya banyak istri, sehingga dijuluki lelaki “setia” (setiap tikungan ada) membuat profesi supir truk dipandang miring. Oknum petugas pun sering menjadikan mereka sebagai “ladang” mencari keuntungan melalui pungutan liar. Padahal tanpa jasa mereka, roda perekonomian tak mungkin digerakkan.

Jelajahi Indonesia Demi Mencari Uang

Adalah Sidin (43), salah satu supir truk angkut barang yang telah menjalani profesi ini selama 12 tahun. Pria kelahiran Purwokerto Jawa Tengah ini mengawali karir mengemudinya ketika hasil dari ladang sawah miliknya sudah tidak bisa lagi diandalkan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Lapangan kerja yang ada terlalu sempit untuk orang-orang yang tidak mengenyam pendidikan tinggi sepertinya. Saat ditemui di salah satu rumah makan di kawasan Jl Sudirman Prabumulih (34), sang kernet, sedang beristirahat di bale bambu.

“Habis dari Medan mau ke Jakarta mas,” ujarnya.

Ia pun menceritakan sekelumit kisah hidupnya. Setelah berhenti menjadi petani, ia kemudian bekerja sebagai kuli angkut sebuah perusahaan ekspedisi yang ada di Jakarta. Karena ketekunannya, ia pun sering diajak supir untuk menjadi kernet truk ke luar kota. Saat itu ia sering meminta sang supir untuk mengajarinya mengemudi truk.

“Setelah bisa, saya pun lalu disuruh menggantikan supir tersebut karena usianya yang sudah tua dan memasuki masa pensiun,” katanya.

Lalu ia ditugaskan oleh perusahaan untuk menjadi supir di cabang perusahaan yang ada di Surabaya. Jalur yag pertama kali ia tempuh adalah Surabaya Balikpapan. Ia mengemudikan mobil truk jenis Fuso dengan box tertutup. Sejak 2004, ia diperintahkan perusahaan untuk mengantar barang dari Jakarta ke Medan.

“Bagi saya mau jalur mana saja akan saya jelajahi asal bayarannya cukup,” cetusnya. Cerita Sidin setidaknya ia telah menjelajahi lebih dari 20 kota di Indonesia.

Sebagai seorang supir, jalanan menjadi sahabat bagi Sidin. Entah bagaimana buruknya kondisi jalan, ia pasti akan setia untuk melewati jalan tersebut. Tak kurang 2-3 kali ban sebuah truk meletus dalam semalam. Maklum, perjalanan memang panjang, puluhan ribu kilometer. Medan jalan pun berat, berliku, berbatu, rusak, atau aspal berpasir. Belum lagi beratnya beban yang dibawa, hingga 5-10 ton.

“Kalau gak pecah ban bukan supir namanya. Makanya saya selalu mengajak Parno,” katanya.
Pun kemacetan dan pungutan liar, menjadi keseharian Sidin dalam menjalankan profesinya. Khusus pungli Sidin menceritakan bahwa propinsi yang paling ramai pungutan semacam itu adalah Sumatera Selatan. Setidaknya ia harus merogoh koceknya sekitar 700 - 800 ribu ketika melewati propinsi ini. Uang itu dikeluarkan untuk biaya timbang di 2 tempat penimbangan yaitu Senawar dan Pematang Tanggang. Di satu tempat ia harus menyetor uang sebesar 300 ribu rupiah. Itupun, tanpa ada proses penimbangan lagi.

“Mau beban kami lebih atau tidak, kami harus menyetor uang sebesar itu agar dapat melanjutkan perjalanan,” katanya.

Ia mengaku sering terlibat cekcok mulut dengan petugas masalah penimbangan ini. Tetapi, bagaimanapun kondisinya supir sepertinya akan selalu tetap salah. Kalau di tempat lain, lanjut Sidin, proses penimbangan tetap dilakukan. Ia hanya membayar uang sesuai kelebihan berat barang yang dibawanya. Sehingga apa yang dikeluarkannya memang tepat. Jikapun beban yang kami bawa dibawah batas berat, kami hanya dikenakan biaya penimbangan sekitar 30 ribu rupiah.

“Di tempat lain lebih fair cara penimbangannya. Kalau supirnya tidak sanggup bayar, ia harus membongkar barang muatannya atau disuruh kembali ke tempat semula,” bebernya.
Uang yang lain digunakan untuk membayar retribusi dan pungutan-pungutan lain. Untuk kena tilang, Sidin menceritakan selama karirnya ia tidak pernah ditilang. Sadar akan profesinya, ia melengkapi seluruh dokumen yang harus dibawa selama perjalanan sehingga petugas tidak bisa macam-macam terhadap dirinya. Pihak perusahaan tempat ia bekerja pun tidak sembarangan menyuruh supir berangkat.

“Sebelum berangkat semua supir dicek kelengkapan surat dan kondisi kendaraannya. Misal SIM saya habis masa, saya tidak akan diizinkan pihak perusahaan untuk berangkat,” katanya.

Menanggapi pungutan-pungutan tersebut, Sidin sebenarnya tidak terlalu ambil pusing karena yang menanggung semua itu adalah pihak perusahaan. Hanya saja ia tidak bisa menikmati uang lebih sisa dari uang jalan yang diberikan perusahaan.

“Semakin banyak pungutan kan uang jalan saya semakin menipis. Padahal hanya ini saja uang tambahan untuk saya berikan ke istri,” katanya.

Lama di jalan, membuat Sidin jarang berkumpul dengan keluarga Baginya para supir truk adalah keluarga besar. Rasa solidaritas dan kekeluargaan tumbuh dengan sendirinya jika bertemu supir yang sedang kesusahan. Meskipun jarang bertemu keluarga, Sidin senang menjadi sopir truk.

“Karena saya bisa membesarkan anak saya dan menikahkannya,” katanya.

Saking asyik dengan pekerjaannya, lelaki asal Purwokerto ini pernah tak sempat pulang ke rumah.

“Waktu itu saya baru pulang dari Surabaya mengantar paket. Begitu sampai di kantor, buru-buru bos menugaskan saya untuk membawa paket lagi ke Surabaya. Terpaksa saya pergi tanpa sempat pulang ke rumah. Untung istri saya tak marah,” tutur lelaki yang bekerja di perusahaan ekspedisi Manado Express ini.

Jauh dari keluarga juga tak membuat Sidin melirik perempuan lain. Diakuinya beberapa supir memang banyak menjadi pengunjung warung remang-remang. Akan tetapi, semua itu dilakukan untuk mengisi kebosanan dan emulihkan kondisi tubuh akibat jauhnya perjalanan yang harus ditempuh.

“Tidak semua supir seperti itu. Orang sering beranggapan salah,” katanya.

Upah sopir truk seperti Sidin cukup besar. Sekali angkut barang ke Medan, dia dibekali uang jalan Rp 6,9 juta. Sebagian untuk pengeluaran seperti solar, tiket ferry, makan., dan dana darurat kalau-kalau ada kerusakan truk yang tak bisa diatasi sopir. Sisanya buat ongkos sopir truk dan kernet. Sayangnya uang jalan kerap terpangkas untuk membayar pungli petugas dan pak polisi. Sidin dan kernetnya masih menerima upah bulanan dari bos.

“Yah.. pokoknya cukuplah untuk makan,” katanya tanpa mau menyebut jumlahnya
Share this article :

Posting Komentar

Situs Berita Online POSMETROPRABU.COM. Pertama dan Terbesar di Kota Prabumulih. Terbit sejak Juni 2011

 
Support : Creating Website | Johny Template | Posmetro Cyber Group
Copyright © 2011. Posmetro Prabu - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Jun Manurung
Proudly powered by Posmetro Prabu