Home » , » Dusun Cinta Cimacam. Surga Bagi Para Pria Penyuka Istri Simpanan

Dusun Cinta Cimacam. Surga Bagi Para Pria Penyuka Istri Simpanan

Written By Posmetro Prabu on 15/04/15 | 15.4.15

Satu dusun di Kabupaten Subang, Jawa Barat, menjadi surga bagi pria penyuka istri simpanan. Kebanyakan warga perempuan dewasanya di sana pernah menikah siri lebih dari lima kali. Tapi mereka tak tergiur memasarkan cintanya via online. Berikut ini liputan media ini ke dusun tersebut baru-baru ini.

ITULAH Dusun Cimacan, Desa Blimbing, Kecamatan Pegaden Barat, Subang. Dusun itu dikenal sebagai lokasi prostitusi sejak 1990-an, dengan julukan Dusun Cinta. Itu karena saat itu hampir setiap rumah di sana mejadi rumah bordir dengan puluhan wanita muda cantik yang siap melayani pria hidung belang.

Tapi sejak sekitar 10 tahun lalu, rumah-rumah bordir di Dusun Cinta meredup. Itu lantaran kalah bersaing dengan tempat prostitusi di kawasan-kawasan Subang lainya. Selain itu, tidak sedikit warga perempuan dewasanya yang dinikahi secara siri (diam-diam) oleh pejabat dan pengusaha asal luar Subang. “Sekarang rumah bordir kurang dari sepuluh,” ujar Sunarta (47), seorang warga.

Meski rumah bordir sudah jarang, Cimacan hingga kini tetap dikenal sebagai Dusun Cinta. Itu karena hampir semua warga perempuan dewasanya dinikahi secara siri. Selain itu, tak sedikit wanita yang menerima tamu hidung belang di rumahnya sendiri. Bahkan banyak juga orangtua yang menawarkan anak perempuannya kepada pria yang bertamu. Tempat “praktik”-nya tentu di rumah warga itu sendiri.

Menuju dusun yang berlokasi sekitar 134 km dari Jakarta itu gampang. Sesampai di pusat kota Subang, tamu lantas menyusuri jalan beraspal berlobang-lobang sejauh sekitar 35 km. Di kanan-kiri sepanjang jalan selabar enam meter itu tampak hamparan tanaman padi. Di mulut jalan memasuki Desa Belimbing banyak tukang ojek menunggu penumpang.

Sepintas Dusun Cimacan sama dengan dusun-dusun lainnya. Pepohonan yang rindang di kanan-kiri jalan membuat udara sejuk di dusun dengan sekitar 500 warga itu. Bangunan rumah-rumahnya, meski dari beton, tidak semewah di kota. Saat media ini melintas dengan sepeda motor, sejumlah ibu-ibu tengah ngobrol dengan lesehan di teras rumah. Sementara anak-anak bermain di halaman rumah.

Karena baru kali pertama ke Dusun Cimacan, media ini lebih dulu mampir di satu warung kopi tak jauh dari mulut jalan masuk dusun. Dari situlah dapat informasi bahwa perempuan di dusun itu enggan diajak mengobrol kalau  tidak “memakainya”. Mereka juga dipastikan menolak kalau tamunya media.

Saat melewati jalan dusun, sekitar 200 meter dari warung kopi, media ini disapa Sunarta (47). Pria berkulit hitam itu mengajak mampir di rumahnya yang berada persis di pinggir jalan. Begitu memasuki ruang tamu, Warti (40), istri Sunarta, langsung menyuguhkan segelas air putih. Tak lama kemudian, seorang wanita muda cantik datang membawa pisang goreng. “Ini anak kami,” ujar Sunarta. Cewek itu berinisial nama NS.

Sunarta dan Warti lantas meninggalkan kami berdua. Setelah setuju soal tarif, NS makin akrab. Dia berusia 25 tahun. Statusnya janda satu anak. Kulitnya putih, rambutnya sebahu dan hidungnya agak mancung.  Badannya tak gendut, setingginya sekitar 160 cm. “Ngobrolnya di kamar saja yuk...,” kata NS, sambil menarik tangan media ini.

Di kamar berukuran sekitar 6 X 5 itu meter terpajang beberapa foto. Antara lain foto dua kali pernikahannya dan foto anak laki-lakinya yang kini berusia tiga tahun. Tak banyak barang di kamar itu, kecuali tempat tidur, lemari pakaian dan satu kipas angin. “Aku memang sudah dua kali nikah siri,” ujar NS. Suami pertama seorang anggota TNI yang mengaku berpangkat kolonel. Suami keduanya pengusaha tekstil asal Jakarta. “Anak ini dari suami kedua,” ujarnya.

Menurut NS, kedua suaminya itu menghilang begitu saja. Suami kedua bahkan kabur sekitar sebulan sebelum anaknya lahir. Meski begitu, NS senang-senang saja. Dia tidak mencari dan menuntut suami untuk memberikan nafkah lahir-bathin. Karena suami siri menghilang itu sudah lumrah di dusunnya. Karena itu pula warga sama sekali tidak menggunjingkannya.

“Aku masih mending dua kali menikah. Yang lebih dari saya banyak di dusun ini. Rata-rata lima kali menikah ," kata perempuan tamatan SMP ini. NS mengaku sejak lulus SMP sudah bekerja di rumah bordir tetangganya karena diminta orangtuanya. Saat itu dia dibayar sesuai jumlah tamu yang dilayani di ranjang, atau pun tamu yang cuma minta ditemani minum. Untuk tamu yang ngamar, dia dapatkan Rp 100 ribu, dan untuk menemani tamu minum-minum Rp 50 ribu/tiga jam. Upah itu dibayar perminggu. “Aku dapat uang harian dari tips pemberian tamu,” kata NS.

Lima tahun lamanya NS di bordir. Seiring makin berkurangnya bordir, NS pun menganggur. Tapi demi pendapatan, sejak saat itu pula dia melayani tamu di rumahnya yang dikenalkan kedua orangtuanya dan tetangga. Dia pun bersedia menjadi istri simpanan dengan cara dinikahi secara siri oleh seorang tamunya yang mengaku perwira TNI. “Orangtua yang mengenalkan tamu itu. Saat itu aku masih 19 tahun,” ujar NS. Saat itu mas kawinnya uang tunai Rp 15 juta.

Belum genap setahun menikah, suami NS menghilang. Sebelum menghilang, suaminya itu selalu datang seminggu sekali ke rumahnya untuk menemuinya dan memberikan uang belanja dia dan keluarganya.

“Lumayan, dari pernikahan itu saya bisa pasang keramik rumah ini,” ujar NS, lirih, sambil menyisir rambutnya.

Tak lama menjanda, tepatnya pada 2012, NS diperkenalkan oleh orangtuanya seorang tamu yang mengaku pengusaha tekstil dari Jakarta. Dengan mas kawin uang tunai Rp 10 juta, saat itu NS bersedia dinikahi secara siri oleh pengusaha tadi. Jumlah mas kawinnya lebih kecil dibanding saat pernikahan pertama, karena NS sudah pernah menikah dan usianya tak lagi muda.

Selama menikah dengan pengusaha itu, NS mendapatkan fasilitas cukup mewah. Orangtuanya dibelikan sawah serta sepeda motor bekas. Saat itu NS merasa bahagia dengan suaminya. Beberapa bulan setelah menikah NS pun hamil. Tapi sekitar dua bulan menjelang kelahiran anaknya suaminya itu menghilang. “Aku mau cari dia ke mana? Alamatnya saja aku tidak tahu. Jadi saya pasrah saja,”ungkapnya.

Setelah ditinggalkan suami keduanya, NS kembali melayani tamu yang datang ke rumahnya. Dia juga melayani tamu yang mengajaknya ke luar rumah. Untuk berkencan di rumah dia memasang tarif Rp 300 ribu untuk shirt time (90 menit), dan Rp 1 juta bila bermalam bersamanya. Harga itu bersih tanpa harus membayar lain-lain. Bahkan jika beruntung tamu akan mendapatkan makan gratis bila datang saat jam makan. Untuk kencan di luar rumah Rp 500 ribu/90 menit, dan Rp 1.5 juta untuk yang bermalam bersamanya. Dalam sepekan, NS mengaku bisa melayani lima sampai 13 tamu, baik yang datang ke rumah atau mengajaknya memanggilnya ke hotel.

NS sebenarnya ingin ada yang kembali mengajak nikah siri. Tapi belum ada tamu yang mengajak. Kalau ada yang mau mengajak, dia akan meminta mas kawin uang tunai Rp 10 juta, dan uang Rp 5 juta setiap bulannya untuk kebutuhan keluarganya.

“Jumlah itu di luar kebutuhan kalau saya mau belanja baju atau mau beli barang,” katanya.
NS pun mengaku sebetulnya dia juga ingin menikah secara normal (sah secara agama dan negara). Hal ini agar dia tidak ditinggal suami tanpa alasan.

“Tapi tidak tahu, apakah ada pria yang seperti itu (mau menikahi secara agama dan negara),”" tutupnya.



70 Persen Istri Simpanan

Di Dusun Cinta Cimacan itu, ada ratusan perempuan lain yang melakukan kegiatan persis dilakukan NS. Bahkan saat ini, selain melayani tamu yang datang, banyak perempuan yang menjadi istri simpanan pejabat dan pengusaha asal Jakarta melalui nikah siri.

“Sekitar tujuh puluh persen perempuan di Dusun Cinta menjadi simpanan oom-oom,” kata wanita patuh baya yang mengaku bernama Umi.

Umi adalah salah seorang pemilik warung makan di Dusun Cinta. Kepada para tamunya, yang kebanyakan dari Jakarta dan Bandung, Umi selalu menawarkan wanita di dusunnya. Atau, bila ada tamu yang bersedia menikah siri, Umi bersedia mencarikan wanitanya. Dusun Cinta akan ramai dikunjungi tamu saat akhir pekan dan awal bulan.

“Kebanyakan orang asing (tamu) ke sini ya.. pasti akan mencari perempuan," kata ibu lima orang anak itu.Umi menjelaskan, untuk para pria yang akan menikah sirih di Dusun Cinta syaratnya gampang. Yakni cukup memiliki uang untuk mas kawin dan bersedia menafkahi istrinya selama menjadi suami siri. Besaran uang mas kawin disesuaikan dengan umur perempuan. Makin tua usia perempuannya, makin kecil uang mas kawinnya.

“Kisaran sekitar Rp 7 sampai Rp 50 juta. Sedangkan jatah bulanan tergantung si perempuan dan keluarganya. Uang itu belum termasuk bayar kyai yang mengawinkan, saksi, dan uang untuk bayar doa,” kata Umi, sambil memperlihatkan sejumlah foto perempuan yang ada di dalam Handphonenya. Untuk ongkos kyai dan saksi sekitar Rp 5 juta. Kyai dan saksi itu, tentu bukan orang yang ingat dosa, berasal dari dusun itu juga.Umi pun lantas menjelaskan soal kebiasaan nikah siri di dusunnya.

Setelah menikah, maka si perempuan biasanya akan menurut dengan suami, dan tidak akan menanyakan identitas suaminya, termasuk alamatnya. Tujuannya agar keluarga suami tidak akan pernah tahu tentang pernikahan sirih itu. “Perjanjianya memang seperti itu. Si perempuan juga sudah mengerti akan resikonya, makanya mereka diam saja," ucap perempuan yang kedua anak perempuanya kini menjadi istri sirih pejabat Kementerian Dalam Negri (Kemendagri) dan PNS Provinsi DKI Jakarta.

Terkait kondisi Dusun Cinta itu, petugas kelurahan setempat cuek saja. Bahkan, ironisnya ada beberapa anak perangkat desa yang menjadi simpanan dan pelayanan nafsu pria hidung belang. Seorang pamong desa, yang konon anaknya menjadi istri simpanan, ketika ditanya media ini enggan menjawab. “Jangan tanya sayalah,” ujar pamong yang enggan disebut namanya itu. Dia hanya menjelaskan jumlah warganya sekitar 500 jiwa.

“Tidak dilarang karena sudah terjadi sejak lama, dan menjadi tradisi, makanya mereka tidak peduli," ujar Irwan (37) salah satu tukang ojek yang sedang singgah di warung milik Umi. Irwan juga merupakan mucikari yang siap mengantarkan tamu yang akan mencari perempuan.

Irwan menjelaskan, masyarakat di Dusun Cinta tidak mengusik warganya yang menjadi istri simpanan atau perempuan pelayanan nafsu pria. Bahkan praktek itu disetujui oleh keluarga mereka dan kegiatan itu sudah menjadi aktifitas turun temurun di keluarga sejak dahulu kala.

"Sudah turun temurun, banyak ibunya jadi pelacur anaknya juga jadi pelacur, ibunya jadi simpanan anaknya juga jadi simpanan," tuturnya.

Irwan mengaku, dahulu memang sering ada razia yang dilakukan oleh petugas Satpol PP Subang di sejumlah rumah bordir. Tapi setelah banyak warga yang melakukan praktek prostitusi di rumah masing-masing Satpol PP kesulitan merezia para perempuan itu.

"Makanya kini banyak rumah bordir yang bangkrut karena banyak perempuan yang bekerja di rumah masing-masing," kata Irwan. Dia menambahkan, rata-rata wanita di dusunnya menikah resmi pada usia 30 tahun. Itu karena para wanita itu lebih menikah siri untuk beberapa kali. Dia pun tak merasa perlu untuk menawarkan bisnisnya itu melalui online seperti ramai diberitakan media akhir-akhir ini. “Kenapa harus lewat online? Yang sekarang saja sudah laris,” ujarnya. 




Share this article :

+ komentar + 6 komentar

Posting Komentar

Situs Berita Online POSMETROPRABU.COM. Pertama dan Terbesar di Kota Prabumulih. Terbit sejak Juni 2011

 
Support : Creating Website | Johny Template | Posmetro Cyber Group
Copyright © 2011. Posmetro Prabu - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Jun Manurung
Proudly powered by Posmetro Prabu