Home » » Menggagas Kebun Raya Nanas di Prabumulih

Menggagas Kebun Raya Nanas di Prabumulih

Written By Posmetro Prabu on 17/10/14 | 10/17/2014


Refleksi 13 Tahun HUT Kota Prabumulih)
Oleh : Arafik Zamhari
Wartawan Prabumulih Pos/Wakil Ketua KNPI Prabumulih

Dahulu Kota Prabumulih populer disebut kota nanas. Sebutan ini tidak sensasi saja. Menurut cerita dari orangtua dan nenek saya dulu,  nanas (ananas comocus) Prabumulih terkenal karena kandungan airnya banyak,  rasanya manis dan buahnya besar. Pada era 70-an sampai 80-an, nanas Prabumulih menjadi primadona Sumatera Selatan.

Tidak lengkap rasanya, berkunjung ke Kota Prabumulih tanpa buah tangan nanas.  Biasanya nanas Prabumulih ditanam di kebun-kebun rakyat dan pekarangan rumah. Dalam skala yang lebih besar, nanas dibudidayakan dengan cara menanam nanas pada lajur-lajur kebun. Nanas tersedia sepanjang tahun dan tak kenal musim hujan maupun musim kemarau.

Menurut cerita tokoh masyarakat Prabumulih, nanas Prabumulih merupakan nanas termanis di Indonesia mengalahkan nanas-nanas dari daerah lain. Rasa manisnya yang unik merupakan keunggulan nanas Prabumulih. Saya tidak tahu, apa nama bibit nanas dulu sehingga  Prabumulih terkenal sebagai kota nanas. Konon, Prabumulih produsen terbesar  nanas di Indonesia. 

Ketika panen, nanas Prabumulih  tidak hanya dijual di Sumatera namun melompat hingga ke Pulau Jawa.   Sayangnya, memasuki Tahun 90-an, nanas Prabumulih mulai meredup. Warga beralih menanam karet. Hitungan ekonomi menjadi dalih warga memilih menanam karet daripada nanas.

Data yang saya peroleh dari Dinas Pertanian Kota Prabumulih, luas lahan perkebunan karet yang dimiliki masyarakat mencapai 19.081 hektar. Ini menunjukkan, sektor perkebunan menjadi urat nadi kehidupan mayoritas masyarakat Prabumulih. Wajar, jika harga karet menyentuh angka di atas Rp 20.000 sampai Rp 30.000, motor dan mobil baru akan berseliweran di pelosok desa. Tak sebatas itu. Harga karet menjadi patokan kapan warga akan menggelar hajatan perkawinan atau tidak.

Akhirnya, nanas hanya dijadikan sebagai tanaman sela/pendamping tanaman karet berdampak pada penurunan hasil panen. Pada 2009 nanas Prabumulih sudah tidak terdengar lagi gaungnya. Bahkan kalah dengan nanas Lampung, yang mengklaim diri sebagai produsen nanas terbesar di tanah air.

Jika Anda berjalan di kawasan Rumah Makan Siang Malam Cambai, ada penjual nanas, bolehlah ditanya, dari daerah mana nanas yang mereka jual berasal? Jawabanya yang pernah saya terima, bukan dari Prabumulih. Bahkan ada penjual yang menjawab dari daerah tetangga misalnya Tanjung Batu, Ogan Ilir. Sentra-sentra perkebunan nanas di Prabumulih, seperti Tanjung Raman dan Sungai Medang, hanya tinggal kenangan saja. Kalau pun ada tanaman nanas, itu hanya keperluan makan sekeluarga saja.

Terakhir, saya dengar dan lihat sendiri, Pemerintah Kota Prabumulih sedang membudidayakan kembali nanas yang berlokasi di belakang kantor Pemerintah Kota Prabumulih.  Saya belum tahu, bagaimana kondisi terakhir nanas yang dibudidayakan tersebut.

Kebun Raya Nanas
Tiap kali, keluarga dan kerabat saya dari luar kota ke rumah, mereka bertanya, lokasi wisata apa yang bisa dikunjungi di kala mampir di Prabumulih? Saya hanya mengelengkan kepala dan diam. Kota ini memang tidak menyediakan lokasi wisata bagi masyarakat atau pun orang yang kebetulan hanya rehat sebentar.

Saya memang belum puluhan tahun berdomisili di Bumi Seinggok Sepemunyian ini. Namun profesi sebagai wartawan, menghantarkan saya, sedikit banyak mengetahui lebih cepat dan detil perkembangan kota ini dari sejumlah narasumber. Sebagai warga kota ini, semua memiliki keinginan pembangunan yang dilakukan pemerintah mendatangkan manfaat bagi seluruh masyarakat.

Tahun ini umur Kota Prabumulih baru menginjak 13 tahun sejak pisah dari Kabupaten Muara Enim 17 Oktober 2001.  Dengan umur yang masih tergolong belia, perkembangan kota ini boleh dibilang termasuk cepat. Di sektor perbankan, jumlah bank yang beroperasi berjumlah 24 bank, baik bank nasional, daerah, konvensional atau syariah serta perkreditan.

Jumlah ini menempatkan Kota Prabumulih, memiliki bank terbanyak kedua setelah Kota Palembang. Berdirinya sejumlah bank dan lembaga pembiayaan ini menjadi indikator betapa pesatnya pertumbuhan perekonomian Kota Prabumulih.

Namun sayangnya, pertumbuhan perekonomian itu belum menyentuh pada sektor pariwisata. Dari beberapa program pembangunan yang direncanakan pemerintah, sektor pariwisata masih belum optimal, untuk tidak mengatakan jalan di tempat. Hingga kini, belum ada terobosan yang fundamental dilakukan Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata untuk mempromosikan Prabumulih lewat jalur wisata. Padahal banyak lokasi yang bisa dieksplorasi menjadi lokasi wisata.

Contoh kecil saja, makam keramat di Gunung Ibul. Berkaca di provinsi di Pulau Jawa, makam-makam keramat selalu tidak dilewatkan oleh para wisatawan. Ziarah rohani, dalam bahasa orang travel, ini akan selalu menarik pengunjung, jika dikemas dalam sebuah even yang terencana, terstruktur dan massif. Ini menunjukkan bahwa  pariwisata tidak hanya soal pantai belaka.

Selain menggali lokasi yang sudah ada dan dinilai layak dijadikan tempat wisata, Pemerintah Kota Prabumulih setidaknya dapat membangun sendiri lokasi wisata yang dapat menarik pengunjung. Tidak usah muluk-muluk. Saya mengusulkan, karena Prabumulih sudah terkenal dengan ikon nanas, selayaknya kota ini memiliki kebun raya nanas. Jika di Taman Buah Mekarsari Cibubur, terdiri dari aneka ragam buah dan tanaman, maka kebun raya nanas ini, hanya berisi tanaman nanas saja.

Saya membayangkan, kebun raya nanas ini, isinya semua nanas yang berasal dari seluruh nusantara bahkan bila perlu mancanegara. Di dalam kebun raya nanas ini pula, tidak hanya menanam nanas belaka. Dibangun pula laboratorium nanas, tempat para insinyur pertanian atau yang hobi bertanam. Mereka akan bekerja meneliti nanas agar menjadi varietas unggul, entah dengan cara mengawinkan dengan bibit nanas dari daerah lain. Artinya, kebun raya ini, juga menjadi lokasi pusat penelitian nanas.

Karena ini kebun raya nanas, semuanya yang ada di lokasi ini, harus berbau nanas. Jika tadi ada laboratorium nanas, tidak salah pula, di lokasi kebun raya ada, Usaha Kecil Menengah (UKM) warga, yang memproduksi nanas baik sebagai minuman dan makanan. Bila perlu outlet-outlet yang menjual suvenir nanas mainan atau baju kaos bergambar nanas dengan tulisan yang kocak.

Yang dapat dimasukkan pula di dalam kebun raya ini, kuliner nanas. Kebun raya nanas ini pula menyediakan tempat makan dengan menu andalan nanas. Dengan demikian, keberadaan kebun raya nanas, memberi keuntungan ganda bagi masyarakat. Satu sebagai lokasi wisata dan kedua warga memeroleh keuntungan dari berbisnis di lokasi ini.

Saya kira dengan seorang walikota yang berlatar belakang insinyur pertanian, mewujudkan kebun raya nanas ini bukan sebatas mimpi saja. Sebab, dengan kebun raya nanas inilah, salah satu cara untuk bisa mengembalikan memori publik bahwa nanas Prabumulih tidak terkubur oleh zaman. Jika ini terwujud, saya pun akan mendapatkan jawaban jika ada kerabat atau keluarga bertanya dimana lokasi wisata di Prabumulih? Saya akan berkata,”Datanglah ke kebun raya nanas Prabumulih,”. Selamat Ulang Tahun Kotaku.
Share this article :

+ komentar + 1 komentar

Posting Komentar

Situs Berita Online POSMETROPRABU.COM. Pertama dan Terbesar di Kota Prabumulih. Terbit sejak Juni 2011

 
Support : Creating Website | Johny Template | Posmetro Cyber Group
Copyright © 2011. Posmetro Prabu - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Jun Manurung
Proudly powered by Posmetro Prabu