Home » » Ketika Dana Suci Dikorupsi.

Ketika Dana Suci Dikorupsi.

Written By Posmetro Prabu on 24/05/14 | 24.5.14

Atas nama Korupsi, Setelah kitab suci, anggaran menunaikan rukun Islam kelima pun di Tilap
Tidak ada yang mustahil dalam korupsi. Semua duit sah-sah ditilap. Buktinya, uang buat menunaikan ibadah ke Tanah Suci saja disikat!

Seorang Menteri Agama tersangkut kasus korupsi untuk urusan menunaikan rukun agama (haji). Seorang pemimpin partai berlambang Kabah tersangkut kasus tilap-menilap uang rakyat yang hendak berziarah ke Kabah. Ini kombinasi yang menyedihkan, padu-padan yang memalukan.
Beberapa pekan sebelumnya, mantan Menteri Kesehatan juga ditetapkan sebagai tersangka tilap-menilap uang pengadaan alat-alat kesehatan.

Jika Menteri Agama bertugas mengurusi hati rakyatnya, Menteri Kesehatan bertugas menyehatkan tubuh rakyatnya. Jika petugas yang mengurusi tubuh dan hati pun tersangkut korupsi, apa lagi yang mau dikatakan?

Derita Indonesia agaknya akan semakin komplit jika ada pejabat dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang juga terciprat urusan tilap-menilap fulus. Bayangkan saja jika petugas urusan tubuh, hati, dan otak korupsi.

Tapi dalam urusan korupsi segala hal memang bisa terjadi di negeri ini. Yang tua dan muda pernah korupsi. Pengusaha dan menteri pernah korupsi. Laki dan perempuan juga korupsi. Menantu menteri jadi tersangka, besan presiden juga masuk bui.

Hanya saja, harus diakui, tilap menilap uang di Kementerian Agama memang lebih menyedihkan. Sebelum kasus terkait penyelenggaraan haji masuk ke KPK, pengadaan Quran sudah lebih dulu mencorengkan arang di dinas urusan iman dan takwa ini. Jika uang untuk menunaikan rukun Islam dan menyebarkan kitab suci saja tetap disikat, maka tak ada yang mustahil lagi dalam korupsi. Semua bisa diisap, semua mungkin untuk ditilap.

Korupsi sapi atau kitab suci dan haji tetap saja korupsi. Korupsi alat kesehatan atau suap pilkada sama saja busuknya. Seperti halnya kebaikan, tak ada peringkat dalam kejahatan.
Tapi, setidaknya, kita masih bisa mengukur dan mempertimbangkan efek sebuah kejahatan atau korupsi. Kadangkala, skala daya rusak itu juga menjadi pertimbangan hakim dalam menjatuhkan (lamanya) hukuman.

Yang bikin tak enak dilihat dari kasus korupsi yang terkait dengan urusan agama, iman, dan takwa adalah pembelaan yang kadangkala membabibuta. Karena membela tersangka, jemaat yang bersangkutan kadangkala melepas tersangka ke tahanan sambil bertakbir, selawat, atau jargon-jargon agama lainnya. Bahkan pernah terjadi, beberapa bulan lalu, begitu hakim memvonis seorang ustaz terbukti korupsi, saat itu juga teriakan takbir menggema di ruang sidang.

Pendukung Emir Moeis atau Rokhmin Dahuri tak bisa berteriak Marhaen yang Agung dan pendukung Nazaruddin, Soetan Bhatoegana, atau Anas Urbaningrum tak punya privilese untuk berteriak Demokrasi Yang Maha Esa untuk menjamin kesucian nama tersangka. Mereka tak ada yang menjamin jatah sekapling surga saat masuk tahanan KPK.

Terkdang terbesit pikiran "Menteri yg diragukan Hajinya"
jangan2 dia juga korupsi saat tawaf hanya untuk sebuah gelar H..
Ah sudah lah. Wallahu A'lam Bishhowab..


oleh : Abdul Gani
Jurnalis di Kepulauan Riau
Share this article :

Posting Komentar

Situs Berita Online POSMETROPRABU.COM. Pertama dan Terbesar di Kota Prabumulih. Terbit sejak Juni 2011

 
Support : Creating Website | Johny Template | Posmetro Cyber Group
Copyright © 2011. Posmetro Prabu - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Jun Manurung
Proudly powered by Posmetro Prabu